Dumai (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Provinsi Riau menyatakan musim kemarau atau cuaca kering pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sana masih akan terus berlanjut hingga Agustus 2011.

Analis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Riau di Pekanbaru, Warih Puji Lentari, Jumat, kepada ANTARA di Kota Dumai melalui komunikasi selular mengatakan, sebagian besar wilayah Riau saat ini hingga memasuki bulan Agustus 2011 masih minim hujan.

Kondisi itu menurut dia akan menyulut kekeringan dimana-mana sehingga tidak menutup kemungkinan terus bertambahnya kasus-kasus kebakaran hutan dan lahan seperti yang saat ini terjadi.

Menurut Warih, masih tidak menutup kemungkinan beberapa wilayah Riau akan dilanda hujan namun tergantung dari percepatan pertumbuhan awan.

"Berdasarkan analisa dan pantauan satelit cuaca, kemungkinan terbentuknya awan penghujan cendrung mengarah ke Riau bagian barat.

Wilayah yang menjadi lintasan awan tersebut berpotensi diguyur hujan namun intensitasnya hanya ringan hingga sedang dan sifatnya masih lokal," kata Warih.

Rendahnya potensi hujan tersebut menurut Warih mengakibatkan titik kebakaran hutan dan lahan gambut masih akan bertahan dan bahkan bertambah.

Pada Kamis (14/7) lalu, kata Warih, satelit cuaca "National Oceanic and Atmospheric Administration" (NOAA) 18 yang dioperasikan Amerika Serikat mendeteksi sedikitnya terdapat 80 titik api di Riau.

"Jumlah ini meningkat dibandingkan hari sebelumnya (Rabu 13/7-red) dimana jumlah titik api masih mencapai 38 titik," katanya.

Warih menguraikan, ke 80 titik api tersebut tersebar di hampir seluruh wilayah Riau dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Rokan Hilir yakni 37 titik api.

"Agar jumlah titik api tidak bertambah, sebaiknya masyarakat tidak melakukan pembakaran hutan atau lahan untuk membuka perkebunan baru," demikian Warih Puji Lenstari. (ANT/K004)